Arsip

Archive for the ‘Edukasi’ Category

DOWNLOAD DRAFT KURIKULUM 2013

Desember 4, 2012 1 komentar

Untuk download silahkan klik link dibawah …

Presentasi Mendikbud di Depan Wapres  sumber Link

Lihat dan Download Draft Kurikulum 2013  file Pdf

Download Draft Kurikulum 2013  file Powerpoint

PERAN DAN MANFA’AT KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

November 21, 2012 Tinggalkan komentar

SINERGI POSITIF ANTARA SISWA DAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

(Oleh : Cecep Abdullah, S. Pd. I / Guru SMK dan MTs. Al-Fathimiyah)

Idealnya..

siswa yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler

akan terampil dalam berorganisasi, mengelola, memecahkan masalah

sesuai karakteristik ekstrakulikuler yang diikuti

Renungan

Mengingat dewasa ini banyak terjadi degradasi moral yang menimpa masyarakat, maka sungguh ironis jika terdapat siswa yang berani melakukan tindakan asusila, tawuran dan kekerasan. Bahkan lebih ironis lagi jika ada guru yang memberikan ruang atau contoh yang tidak baik. Dengan demikian maka perlu adanya upaya  membentengi prilaku negatif tersebut untuk mengawal perkembangan kepribadian generasi bangsa ini. Berupaya memastikan para siswa sebagai generasi penerus yang tumbuh tanpa mengenal referensi hidup yang negatif (tawuran, kekerasan, korupsi, asusila dll), tetapi mereka mengenal referensi hidup yang positif (menghargai, menghormati, rukun, kerjasama, jujur, disiplin, bertanggungjawab, prestasi dll).

Usia pelajar (siswa) adalah usia yang penuh energi namun perkembangan dan sifat mereka masih labil, gampang dipengaruhi oleh lingkungan, gampang dipengaruhi oleh tanyangan-tanyangan negatif, gank-gank anak muda, tawuran, narkoba, asusila dan lain sebagainya.

Dalam fase ini para siswa masih dalam tahap pencarian jatidiri, mereka butuh wadah untuk mengekspresikan diri, pengakuan dari kelompok, butuh perhatian, butuh ruang ekspresi diri. Jangan biarkan mereka mencari sendiri ruang ekspresi diri tanpa pengarahan dari guru, orang tua dan lingkungan sekitar. Jika mereka tidak diwadahi oleh kegiatan yang positif maka khawatir akan melampiaskan kehendaknya dengan tanpa pengawalan, tanpa pendampingan sehingga bisa berakibat negatif bahkan merugikan orang lain. Oleh karena itu perlu diberikan ruang bagi mereka melalui kegiatan ekstrakulikuler disekolah.

 

Pembinaan Karakter

Kegiatan ekstakurikuler adalah media untuk memberikan pengalaman hidup yang dibutuhkan siswa, memberikan kontribusi yang berarti untuk mengembangkan minat dan bakat siswa, serta membina dan menanamkan nilai karakter positif seperti rasa tanggung jawab, kerja sama, kemandirian, disiplin, toleran dan lain-lain.

Dengan demikian sangat tepat jika semua siswa mengisi kegiatan diwaktu luang setelah pulang sekolah dengan ikut aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler yang ada disekolah. Disamping sebagai ajang mempererat persaudaraan (silaturrahim) juga sebagai ajang pengembangan bakat, sebagai ajang pembuktian diri bahwa “saya pasti bisa berprestasi!!”, dan yang terpenting adalah sebagai ajang melatih kemandirian, disiplin, jujur, ta’at dan tanggungjawab (caracter building).

Metode Pembiasaan

Dalam kegiatan ekstrakurikuler siswa dilatih untuk mempunyai respon reflek dengan baik dalam memecahkan setiap masalah yang mereka hadapi. Hal ini butuh latihan dan pembiasaan dalam pengawalan guru dan orang tua. Artinya peran guru dan orang tua sangat penting dalam mengawal kebiasaan yang dilakukan siswa. Peran guru dan orang tua hendaklah mampu menjadi model ideal yang bisa mereka contoh mulai perilaku, tutur kata, penampilan dan lain sebagainya. Termasuk kegiatan pembiasaan adalah pengajian, shalat dhuha, halaqah, shalat dzuhur berjama’ah, membuang sampah pada tempatnya, menyimpan sepatu dengan tertib dan lain-lain

Melalui kegiatan ektrakurikuler, semoga siswa mempunyai bekal kecerdasan sosial, moralitas, bijaksana dalam menghadapi dan memecahkan problem yang mereka hadapi, bahkan problem yang dihadapi bangsa ini. Dan semoga dikemudian hari generasi penerus bangsa ini mampu memberantas korupsi, perampokan, pembunuhan, narkoba, dan prilaku menyimpang lainnya yang ada di masyarakat. Amiin..

NILAI TERTINGGI UN SMA SE-INDONESIA 2010-2011

10 Sekolah dengan Nilai Ujian Nasional Tertinggi – Kementerian Pendidikan Nasional melansir sepuluh SMA dan SMK dengan nilai rata-rata Ujian Nasional tertinggi. Semuanya di atas 9,2. Data ini disampaikan Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, dalam konferensi pers di Kementerian Pendidikan Nasional, Jumat, 20 Mei 2011.

Pada tingkat SMA, peringkat satu dipegang oleh SMA Negeri Fajar Harapan, Banda Aceh, dengan rata-rata 9,53, diikuti dengan SMAN 4. Denpasar, dengan 9,49; SMAN 1, Tasikmalaya, dan SMAN 2 , Tasikmalaya, dengan nilai 9,4; SMA 2 Modal Bangsa Kuta Baro, Aceh Besar, dengan 9,37; SMAN 1, Denpasar, dengan 9,34; SMAN 3, Denpasar, dengan 9,3; SMAN 1, Bekasi, dengan 9,24; SMAN 3, Lamongan, dengan 9,21; dan SMAN 1, Kudus, dengan nilai rata-rata 9,2.

Sementara itu, di tingkat SMK, tiga besar peringkat pertama dipegang oleh sekolah di Kabupaten Serdang Bedagai. Secara berurutan, yaitu SMKN 1 Sipispis dengan rata-rata 9,44, SMKN Swasta Yapim Sei Bamban dengan 9,4 dan SMK Swasta Darul Amaliyah 9,39. Peringkat berikutnya diisi oleh SMK Al-Madani Jampangkulon, Sukabumi, dengan 9,39; SMK Yapim Sei Gelugur 1, Deliserdang, dengan 9,35; SMK Swasta Yapim Tebing Syahbandar, Serdang Bedagai, dengan 9,33; SMK NU Karangampel, Indramayu juga dengan 9,33; SMK Bina Putera Banjar dengan 9,32; dan terakhir, SMK Bandung Utara dan SMK Swasta Ti Ar Rahman Medan dengan 9,3.

Keduapuluh sekolah menengah ini juga berhasil mengantarkan siswa mereka lulus ujian nasional 100 persen.

Artikel Terkait

PROSENTASE KELULUSAN SMA 2010-2011

Kelulusan SMA Capai 95,63 Persen

Perubahan sistem nilai kelulusan yang ditetapkan Mendiknas memberikan angin segar bagi siswa peserta Ujian Nasional (UN). Di Kabupaten Pontianak, angka kelulusan SMA tahun 2011 meningkat signifikan. Dari 1.692 peserta ujian, 1.618 siswa atau 95, 63 persen dinyatakan lulus.

Kelulusan diumumkan serempak di seluruh SMA, SMK dan MA yang ada di Kabupaten Pontianak, Senin (16/5). Pada beberapa sekolah favorit, seperti SMAN 1 dan 2 Mempawah, SMAN 1 Sungai Pinyuh, Siantan, Segedong kelulusan mencapai seratus persen.

Berdasarkan Daftar Nominasi Tetap (DNT) Dinas Pendidikan, jumlah peserta UN SMA, SMK dan MA di Kabupaten Pontianak tahun 2011 sebanyak 1.741 siswa. Namun dari jumlah itu, hanya 1.692 siswa yang mengikuti penyelenggaraan UN 2011 lalu.

Dengan perincian, peserta ujian SMA jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebanyak 223 siswa atau lulus 100 persen. Sedangkan jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebanyak 649 siswa hanya lulus 640 siswa atau setara 98,61 persen.

Kemudian, peserta UN SMK sebanyak 545 siswa, hanya 481 siswa yang lulus atau 88, 26 persen. Serta peserta MA jurusan IPA sebanyak 49 siswa dengan persentase kelulusan 100 persen, dan MA IPS diikuti 226 siswa dengan persentase kelulusan 99,56 persen.

Total keseluruhan peserta UN 2011 sebanyak 1.692 siswa, dengan tingkat kelulusan sebanyak 1.618 siswa atau 95, 63 persen. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu dengan persentase 80,29 persen.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pontianak, Zulkifli Salim, mengaku puas dan bangga atas hasil yang dicapai. Menurut dia, hasil yang diraih tahun ini sudah maksimal dan berkat kerja keras semua pihak.

“Semua pihak sudah berusaha, dan berbuat semaksimal mungkin untuk mencapai hasil kelulusan yang optimal. Dan alhamdulillah, hasilnya sangat memuaskan. Terjadi kenaikan persentase kelulusan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.

Karenanya, tutur Mantan Kadis PPAKD Kabupaten Pontianak itu, sejak awal dipercaya memimpin Disdikpora, dia beserta tim lebih fokus pada pembinaan di lapangan. Bahkan 60 persen waktunya berada di lapangan dari pada duduk di kantor.

“Kita terus mensosialisasikan, memberikan petunjuk dan arahan, serta bimbingan kepada semua komponen pendidikan. Mulai kepala sekolah, kepala bidang, pengawas serta dewan guru untuk serius mempersiapkan diri menghadapi UN,” tuturnya.

“Berkat dukungan dan perhatian yang diberikan semua pihak mulai dari masyarakat, lingkungan, komite dan orangtua wali murid, pelaksanaan ujian berlangsung dengan baik. Dan hasilnya sangat memuaskan dengan persentase kelulusan mencapai 95,63 persen,” tukasnya.

Usai menerima amplop dan mengetahui kelulusannya, para siswa meluapkan kegembiraannya. Aksi corat-coret seragam sekolah seakan menjadi tradisi turun temurun tiap tahun kelulusan. Selanjutnya, dengan menggunakan sepeda motor para siswa menggelar konvoi mengelilingi Jalan Mempawah dan sekitarnya. Konvoi berlangsung tertib, dan mendapatkan pengawalan dari polisi dan Dinas Perhubungan Kabupaten Pontianak.

(dari berbagai sumber)

Penerimaan Peserta Didik Baru 2011-2012

 

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM AL-FATHIMIYAH

(YASPIYAH)

TELUKJAMBE TIMUR KARAWANG JAWA BARAT

MENERIMA PESERTA DIDIK BARU

TAHUN PELAJARAN 1432-1433 H/2011-1012 M

 


1.      Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), untuk Program Studi/Jurusan :
a. Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)
b. Teknik Sepeda Motor (TSM)

2.      Madrasah Tsanawiyah (MTs / SMP)

3.      Pondok Pesantren (Pontren)

4.      Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA)

5.      Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho (DTW)

6.      Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKQ)

7.      Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an Lanjutan (TKQL)

8.      Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ)

Persyaratan Umum:

  1. Mengisi Formulir Pendaftaran
  2. Foto copy SKHUN dan SKB dari sekolah
  3. Menyerahkan Pas Foto 3X4 dan 2X3 masing-masing  2 Lembar
  4. Biaya Formulir pendaftaran Rp. 50.000,-

Informasi lebih lanjut hubungi :
Sekretariat Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru
Kampus Yayasan Pendidikan Islam Al-Fathimiyah Jl. Perum Peruri no.69 Pinayungan

Telukjambe Timur-Karawang
Website : http://www.alfathimiyah.com

contact person :

  1. Bayu Sugara – Hp. 0856 24 94 56 43
  2. Cecep Abdullah, S. Pd. I -Hp.  081804066486
  3. Aef Saefullah, S. S – Hp. 0813 19 37 83 41
  4. Moch Yunus, S. Pd – Hp. 0813 15 85 11 50

PESANTREN DAN PENDIDIKAN NASIONAL

PESANTREN DAN PENDIDIKAN NASIONAL

Secara historis, pesantren lebih awal tumbuh dan berkembang di Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan lembaga pendidikan tradisional ini telah berdiri disejumlah daerah yang terkenal seperti Banten, Surakarta, Bangkalan, Tremas Pacitan, Tebuireng Jombang, Surabaya, Gresik, Cirebon, Semarang, Kendal, Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya dipulau Jawa.

Dalam perkembangannya, ketika modernisasi pendidikan berupa hadirnya sistem sekolah dan diadopsi dalam pendidikan nasional, eksistensi pesantren mulai menghadapi penetrasi baik dalam hal kelembagaan, kurikulum, maupun tradisi akademiknya. Dengan adanya surat keputusan bersama antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, disingkat SKB 3 Menteri, pada 24 Maret 1975 secara resmi sistem pendidikan Islam Indonesia telah menjadi subsistem pendidikan nasional. Sejak tahun 1970-an inilah merupakan awal dari perkenalan pendidikan pesantren dengan berbagai kursus keterampilan. Dan pada tahun 1990-an dinamika pendidikan pesantren memperlihatkan perkembangan yang lebih dinamis, yakni dengan menyelenggarakan pendidikan formal Madrasah yang integral dengan pendidikan pesantren.

Fenomena diatas telah melahirkan dua implikasi, yaitu ; atas nama modernisasi pendidikan nasional menjadi mainstream dalam pembangunan pendidikan di Indonesia. Disisi lain, atas nama tradisionalitas pesantren cenderung dianggap sebagai pendidikan nasional masa lalu. Dua implikasi itulah yang terkadang pendidikan pesantren dijadikan obyek dari sistem pendidikan modern, seperti upaya serius berbagai institusi pendidikan modern yang menggalang terciptanya doktrin “sumber daya manusia” yang andal abad ke-21. Penguasaan ilmu pengetahuan dan ketaqwaan menjadi parameter yang terus dipromosikan dikalangan masyarakat pesantren. Dengan dalih sebagai langkah moderatnya pendidikan pesantren mengadopsi sistem pendidikan umum dan pada saat bersamaan pesantren mengarahkan orientasi pendidikan santri dapat menguasai keilmuan umum dan agama.

Namun demikian, pesantren dipihak lain secara optimistik bertindak sebagai subyek diantara sekian bentuk dan system pendidikan modern. Pandangan positif terhadap laju pembangunan dibidang pendidikan dan gencarnya pengaruh globalisasi telah memberikan pelajaran yang berarti bagi dunia pesantren. Penerimaan terhadap modernitas dengan segala produknya dalam hal ini dipandang sebagai jalan tengah, tidak saja untuk mempertahankan eksistensi kelembagaannya tetapi juga dimaknai sebagai modal pergeseran pendidikan islam yang lebih aplikabel dan fungsional. Dalam kondisi seperti itulah pesantren terus eksis dan mencari pola dalam mengikuti perkembangan pendidikan nasional.

Sejalan dengan reformasi di Indonesia, sitem pendidikan nasional pada mulanya terdominasi oleh system pendidikan yang berorientasi pada penguatan kelembagaan pendidikan yang bersifat formal ditengah masyarakat.

METODOLOGI PEMBELAJARAN

April 5, 2011 3 komentar

PEMBELAJARAN TRADISIONAL VS PEMBELAJARAN MUTAKHIR


NO. TRADISIONAL MUTAKHIR
1. Fokus Kurikulum Menekankan pada cakupan isi, pengetahuan fakta, belajar ketrerampilan dan isolasi Menekankan pada kedalaman pemahaman isi, penguasaan konsep dan prinsip, serta pengetahuan keterampilan pemecahan masalah kompleks.
2. Lingkup dan urutan penyampaian Ketat, belajar dari unit ke unit, memusat dan berfokus serta berbasis pada disiplin ilmu Mengikuti minat siswa, unit-unit terbentuk dari problem dan isu kompleks, meluas dan berfokus pada antardisiplin ilmu
3. Peran Guru Sebagai penceramah, pemimpin dan tenaga ahli dalam pembelajaran Sebagai penyedia berbagai sumber belajar, sebagai partisipan dan mitra belajar
4. Fokus pengukuran Menekankan hasil, skor tes, membandingkan dengan siswa lain, atau kemampuan mereproduksi informasi Menekankan pada proses dan hasil, pencapaian hasil nyata, unjuk kerja standard an kemajuan dari waktu ke waktu
5. Bahan pembelajaran Mengandalkan buku teks, ceramah dan presentasi. Kegiatan dan lembar pelatihan dikembangkan oleh guru Menekankan sumber-sumber belajar asli tercetak, interview, dokumen serta data, bahan dikembangkan oleh siswa
6. Penggunaan teknologi Teknologi digunakan sebagai penopang, bersifat peripheral (tidak utama), digunakan oleh guru sebagai alat presentasi (yang utama tetap ucapan Guru) Penggunaan teknologi menjadi utama, bagian integral, diarahkan untuk siswa dan digunakan untuk membantu presentasi siswa atau menguatkan pengetahuan siswa
7. Konteks kelas Menugasi siswa untuk bekerja (belajar) individual, mendorong kompetisi, dan atau menerima informasi dari Guru Menugasi siswa untuk belajar dalam kelompok, terjadi kolaborasi satu dengan yang lain, siswa mengkonstruksi, memberikan kontribusi dan melakukan sintesis informasi
8. Peranan siswa Siswa menjalankan perintah Guru, mengingat dan mengulang fakta, menerima dan menyelesaikan tugas-tugas laporan Mengarahkan siswa agar mampu melakukan kegiatan belajar yang diarahkan sendiri, mengkaji, mengintegrasikan dan menyajikannya. Siswa menentukan tugasnya sendiri, dan bekerja secara independen dalam waktu yang besar
9. Tujuan pembelajaran Tujuan jangka pendek : 

Siswa memahami fakta, istilah dan isi

Tujuan jangka pendek : 

Siswa memahami dan mengaplikasikan ide dan proses yang kompleks

Tujuan jangka panjang : 

Siswa memiliki pengetahuan yang luas dan dapat berhasil menyelesaikan tes standar

Tujuan jangka panjang : 

Siswa memiliki pengetahuan yang dalam, berwatak, dan trampil mengembangkan kompetensi diri, mandiri dan mau belajar sepanjang hayatnya

Sumber : Thomas, Mergendoller dan Michaelson; Project Based Learning : A Handbook for Middle

and High School Teachers ; Tahun 1999

%d blogger menyukai ini: