Arsip

Archive for the ‘Wawasan Keagamaan’ Category

BIOGRAFI LENGKAP KH. ZAENUDDIN MZ

K.H. Zainuddin M.Z. adalah seorang da’i kondang di Indonesia. Ia memiliki nama lengkap K.H. Zainuddin Muhammad Zein (M.Z.) lahir di Jakarta pada tanggal 2 Maret 1951. Anak tunggal buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga Betawi asli ini sejak kecil memang sudah nampak mahir berpidato. Bakatnya ini terbawa sampai ia dewasa hingga ia dikenal dengan julukan “da’i sejuta umat” karena da’wahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. K.H. Zainuddin M.Z. menempuh pendidikan tinggi di IAIN Sarif Hidayatullahdan berhasil mendapatkan gelar doktor dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

Biografi K.H. Zainuddin M.Z. dari Google Biografi

Udin -nama panggilan keluarganya- suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. ‘Kenakalan’ berpidatonya itu tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta. Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato). Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang. Setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya. Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir.

Karena ceramahnya sering dihadiri puluhan ribu ummat, maka tak salah kalau pers menjulukinya ‘Da’i Berjuta Umat’. Suami Hj. Kholilah ini semakin dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai memasuki dunia rekaman. Kasetnya beredar bukan saja di seluruh pelosok Nusantara, tapi juga ke beberapa negara Asia. Sejak itu, da’i yang punya hobi mendengarkan lagu-lagu dangdut ini mulai dilirik oleh beberapa stasiun televisi. Bahkan dikontrak oleh sebuah biro perjalanan haji yang bekerjasama dengan televisi swasta bersafari bersama artis ke berbagai daerah yang disebut ‘Nada dan Da’wah.

K.H. Zainuddin M.Z. saat berceramah

Kepiawaian ceramahnya sempat mengantarkan Zainuddin ke dunia politik. Pada tahun 1977-1982 ia bergabung dengan partai berlambang Ka’bah (PPP). Jabatannya pun bertambah, selain da’i juga sebagai politikus. Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PB NU itu salah seorang deklarator PPP. Dia mengaku lama nyantri di Ponpes Idham Khalid yang berada di bilangan Cipete, yang belakangan identik sebagai kubu dalam NU.

Sebelum masuk DPP, dia sudah menjadi pengurus aktif PPP, yakni menjadi anggota dewan penasihat DPW DKI Jakarta. Lebih jauh lagi, berkat kelihaiannya mengomunikasikan ajaran agama dengan gaya tutur yang luwes, sederhana, dan dibumbui humor segar, partai yang merupakan fusi beberapa partai Islam itu jauh-jauh hari (sejak Pemilu 1977) sudah memanfaatkannya sebagai vote-getter.Bersama Raja Dangdut H Rhoma Irama, K.H. Zainudiin M.Z. berkeliling berbagai wilayah mengampanyekan partai yang saat itu bergambar Ka’bah -sebelum berganti gambar bintang. Hasil yang diperoleh sangat signifikan dan mempengaruhi dominasi Golkar. Tak ayal, kondisi itu membuat penguasa Orde Baru waswas.Totalitas K.H. Zainuddin M.Z. untuk PPP bisa dirunut dari latar belakangnya. Pertama, secara kultural dia warga nahdliyin, atau menjadi bagian dari keluarga besar NU. Dengan posisinya tersebut, dia ingin memperjuangkan NU yang saat itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orde Baru pada 5 Januari 1971. Untuk diketahui, ormas lain yang menjadi bagian fusi itu, antara lain, Muslimin Indonesia (MI), Perti, dan PSII.

Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PB NU itu salah seorang deklarator PPP. Pada 20 Januari 2002 K.H. Zainudiin M.Z. bersama rekan-rekannya mendeklarasikan PPP Reformasi yang kemudian berubah nama menjadi Partai Bintang Reformasi dalam Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta. Ia juga secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini. Zainuddin MZ menjabat sebagai Ketua umum PBR sampai tahun 2006.

Saat ini KH. Zainuddin MZ telah kembali fokus untuk menebarkan dakwah dan kembali berada ditengah-tengah umat.

KH Zainuddin MZ Meninggal dunia

KH Zainuddin MZ wafat pada Selasa 5 Juli 2011 sekitar pukul 09.20 WIB. Hanya amal baiknya saja yang bisa dikenang dan menjadi pelajaran bagi umat.

Haikal Fikri, putra sulung KH Zainuddin MZ, menceritakan almarhum ayahnya selalu tadarus Alquran usai Salat Magrib. Selain tadarus, salah satu amalan yang tak bisa dilupakan Haikal adalah Zainuddin selalu menghibahkan amplop usai mengisi pengajian.

Fikri menceritakan, beberapa kali dia pergi untuk mengaji yang kebetulan sama dengan tempat pengajian waktu ayahnya dulu.

“Saya pernah diajak pengajian ke beberapa tempat, musala, yayasan, pesantren, semua kiainya kasis tahu saya, kalau Zainudin selesai ceramah panitia sering berikan cinderamata, amplop,” katanya saat memberikan sambutan usai tahlil, Kamis (7/7/2011) malam di Rumah Duka, Jalan Gandaria I, Jakarta Selatan.

Lanjut ceritanya, KH Zainuddin MZ yang kondang dengan julukan Dai Sejuta Umat ini, selalu mengembalikan pemberian dari sang pengundang.

“Amplop itu diterima kemudian dibalikin lagi untuk digunakan kepentingan musala, ada yang dibelikan speaker, karpet, itu dari infak Zainuddin yang dikembalikan. Dengan kalimat,’Saya hibahkan, semoga bermanfaat’,” lanjutnya.

Ia pun terkenang kata-kata KH Zainuddin MZ, ayahnya. Saat hal tersebut diceritakan Fikri kepada sang ayah, sang ayah hanya bisa memberikan amanah untuk melanjutkan amalan sang ayahnya ini.

“Saya selalu ingat amalan-amalan ayah, dan saya sering cerita kalau menemukan amalan ayah. Kalau saya tanya ayah, dia jawab,’Epik kalau udah tahu kayak gitu teruskan amalan-amalan ayah’,” lanjutnya.

Di malam ketiga, ratusan pelayat membanjiri rumah duka. Tenda yang disediakan pun tak cukup menampung para pelayat. Bahkan selasar masjid dan sepanjang jalan Gandaria I dipenuhi para pelayat.

Berita Terkait : Zainuddin MZ meninggal

Facebook Fan Page:
http://www.facebook.com/pages/KH-Zainuddin-MZ/53904503956

Referensi:
http://th1979.wordpress.com/2010/09/09/biografi-kh-zainuddin-mz/
http://id.wikipedia.org/wiki/Zainuddin_Muhammad_Zein
http://www.blogtopsites.com/outpost/3b5108164be2de8fcb78397bba3618a4

Download MP3 Ceramah Beliau disini

http://blog.its.ac.id/syafii/2010/05/12/download-gratis-mp3-ceramah-kh-zainuddin-mz-dai-sejuta-ummat/

PESANTREN DAN PENDIDIKAN NASIONAL

PESANTREN DAN PENDIDIKAN NASIONAL

Secara historis, pesantren lebih awal tumbuh dan berkembang di Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan lembaga pendidikan tradisional ini telah berdiri disejumlah daerah yang terkenal seperti Banten, Surakarta, Bangkalan, Tremas Pacitan, Tebuireng Jombang, Surabaya, Gresik, Cirebon, Semarang, Kendal, Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya dipulau Jawa.

Dalam perkembangannya, ketika modernisasi pendidikan berupa hadirnya sistem sekolah dan diadopsi dalam pendidikan nasional, eksistensi pesantren mulai menghadapi penetrasi baik dalam hal kelembagaan, kurikulum, maupun tradisi akademiknya. Dengan adanya surat keputusan bersama antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, disingkat SKB 3 Menteri, pada 24 Maret 1975 secara resmi sistem pendidikan Islam Indonesia telah menjadi subsistem pendidikan nasional. Sejak tahun 1970-an inilah merupakan awal dari perkenalan pendidikan pesantren dengan berbagai kursus keterampilan. Dan pada tahun 1990-an dinamika pendidikan pesantren memperlihatkan perkembangan yang lebih dinamis, yakni dengan menyelenggarakan pendidikan formal Madrasah yang integral dengan pendidikan pesantren.

Fenomena diatas telah melahirkan dua implikasi, yaitu ; atas nama modernisasi pendidikan nasional menjadi mainstream dalam pembangunan pendidikan di Indonesia. Disisi lain, atas nama tradisionalitas pesantren cenderung dianggap sebagai pendidikan nasional masa lalu. Dua implikasi itulah yang terkadang pendidikan pesantren dijadikan obyek dari sistem pendidikan modern, seperti upaya serius berbagai institusi pendidikan modern yang menggalang terciptanya doktrin “sumber daya manusia” yang andal abad ke-21. Penguasaan ilmu pengetahuan dan ketaqwaan menjadi parameter yang terus dipromosikan dikalangan masyarakat pesantren. Dengan dalih sebagai langkah moderatnya pendidikan pesantren mengadopsi sistem pendidikan umum dan pada saat bersamaan pesantren mengarahkan orientasi pendidikan santri dapat menguasai keilmuan umum dan agama.

Namun demikian, pesantren dipihak lain secara optimistik bertindak sebagai subyek diantara sekian bentuk dan system pendidikan modern. Pandangan positif terhadap laju pembangunan dibidang pendidikan dan gencarnya pengaruh globalisasi telah memberikan pelajaran yang berarti bagi dunia pesantren. Penerimaan terhadap modernitas dengan segala produknya dalam hal ini dipandang sebagai jalan tengah, tidak saja untuk mempertahankan eksistensi kelembagaannya tetapi juga dimaknai sebagai modal pergeseran pendidikan islam yang lebih aplikabel dan fungsional. Dalam kondisi seperti itulah pesantren terus eksis dan mencari pola dalam mengikuti perkembangan pendidikan nasional.

Sejalan dengan reformasi di Indonesia, sitem pendidikan nasional pada mulanya terdominasi oleh system pendidikan yang berorientasi pada penguatan kelembagaan pendidikan yang bersifat formal ditengah masyarakat.

BIOGRAFI LENGKAP KH. HASYIM ASY’ARI

April 5, 2011 7 komentar

BIOGRAFI HADROTUS SYEKH KH. HASYIM ASY’ARI

KH. Hasyim Asy’ari lahir di Gedang, Jombang, Jawa Timur, hari Selasa, 24 Dzulhijjah 1287  H bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari, seorang ulama asal Demak yang merupakan keturunan ke-8 dari Jaka Tingkir yang menjadi Sultan Pajang di tahun 1568 M. Jaka Tingkir merupakan anak Brawijaya IV yang menjadi raja Majapahit. Sedangkan Ibunya bernama Halimah, putri Kiai Usman pendiri dan pengasuh pesantren Gedang Jawa Timur. Kiai Usman juga merupakan seorang pemimpin Thariqah ternama pada akhir abad ke-19 M.

Sebagaimana santri pada umumnya, KH. Hasyim Asy’ari senang belajar di pesantren sejak masih belia.. sebelum umur 8 tahun Kiai Usman sangat memperhatikannya. Kemudian pada tahun 1876 M ia meninggalkan kakeknya tercinta untuk memulai pelajarannya yang baru di pesantren orang tuanya sendiri di Keras.

Menginjak usia 15 tahun, KH. Hasyim berkelana ke berbagai pesantren yakni ke pesantren Wonokoyo Probolinggo, pesantren Langitan Tuban, pesantren Trenggilin Madura, pesantren Demangan Bangkalan Madura dan akhirnya ke pesantren Siwalan Surabaya. Di pesantren Siwalan ia menetap selama 2 tahun. Karena kecerdasannya, ia diambil menantu oleh Kiai Ya’kub pengasuh pesantren tersebut. Kemudian ia dikirim ke mekah oleh mertuanya untuk menuntut ilmu disana. Ia bermukim di mekah selama 7 tahun dan tidak pernah pulang, kecuali pada tahun pertama saat puteranya yang baru lahir meninggal dunia kemudian disusul istrinya juga meninggal. Di tanah suci KH. Hasyim mencurahkan pikirannya untuk belajar berbagai disiplin ilmu, sehingga pada tahun 1896 M ia telah mampu mengajar.

Selama di Mekah, KH. Hasyim Asy’ari belajar dibawah bimbingan ulama terkenal, seperti Syekh Amin al-Athor, Sayyid Sultan Ibnu Hasyim, Sayyid Ahmad Zawawi, Syekh Mahfudz al-Tirmasi. Ia tertarik dengan ide pembaharuan, namun ia tidak setuju dengan beberapa pemikiran Wahabi yang kebablasan dalam beberapa pembaharuannya. Gerakan pembaruan Islam ini gencar dilakukan oleh Muhammad Abduh.

Inti gagasan Muhammad Abduh adalah mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni yang lepas dari pengaruh dan praktek-praktek luar, reformasi pendidikan Islam di tingkat Universitas, megkaji dan merumuskan kembali doktri Islam dan mempertahankan Islam. Rumusan-rumusan Muhammad Abduh ini dimaksudkan agar umat Islam dapat memainkan kembali peranannya dalam bidang social, politik dan pendidikan pada era modern. Untuk itu pula Muhammad Abduh melancarkan gagasan agar umat Islam melepaskan diri dari keterikatan pola piker para pendiri Madzhab dan meninggalkan segala praktek tarekat. Ide ini disambut secara antusias oleh para pelajar Indonesia yang berada di Mekah, bahkan mendorong mereka untuk pergi ke mesir untuk melanjutkan studinya dan mengembangkannya setelah pulang ke tanah air.

Mas inilah yang kemudian disebut oleh Zamahsari Dlofier sebagai Islamic Revivalisme yang mempunyai dua karakteristik, yakni melepaskan diri dari ikatan bermadzhab dan tetap berpegang pada pola pemikiran madzhab yang empat. Dalam kelompok kedua inilah KH. Hasyim Asy’ari mempunyai andil yang besar dalam melestarikannya.

KH. Hasyim Asy’ari setuju dengan gagasan Muhammad Abduh tersebut untuk membangkitkan semangat Islam, tetapi ia tidak setuju dengan hal pelepasan diri dari madzhab. KH. Hasyim Asy’ari berkeyakinan bahwa tidak mungkin memahami maksud sebenarnya dari al-Qur’an dan Hadits tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang ada dalam system madzhab. Menafsirkan al-Qur’an dan Hadits tanpa mempelajari dan meneliti pemikiran para ulama madzhab, maka hanya akan menghasilkan pemutarbalikan ajaran Islam yang sebenarnya.

Sementara itu dalam menanggapi seruan Muhammad Abduh dan Syeikh Ahmad Khatib agar umat Islam meninggalkan tarekat, maka KH Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa tidak semua tarekat salah dan bertentangan dengan ajaran Islam, yakni tarekat yang mengarah pada pendekatan diri kepada Allah SWT.

Setelah kepulangannya dari Mekah, KH Hasyim Asy’ari kemudian terlibat aktif dalam pengajaran di pesantren kakaknya sebelum akhirnya mendirikan pesantren Tebuireng. Di Pesantren Tebuireng inilah KH Hasyim Asy’ari mencurahkan pikirannya sehingga ke’alimannya terutama dibidang Hadits, maka pesantren Tebuireng berkembang begitu cepat dan terkenal dengan pesantren Hadits. KH Hasyim Asy’ari dalam mengelola pesantren Tebuireng mampu membawa perubahan baru. Beberapa perubahan dan pembaharuan yang dilakukan pada masa kepemimpinan KH Hasyim Asy’ari antara lain mengenalkan system Madrasah. Sebelum tahun 1899 M, pesantren Tebuireng menggunakan sistem pengajian sorogan dan bandongan. Akan tetapi sejak tahun 1916 M mulai dikenalkan sitem Madrasah dan tiga tahun kemudian  (1919 M) mulai dimasukan mata pelajaran umum. Langkah tersebut merupakan hasil dari rumusan KH Maksum (menantu KH Hasyim Asy’ari).

 

JIHAD AKBAR ADALAH MELAWAN HAWA NAFSU

April 2, 2011 5 komentar

JIHAD AKBAR ADALAH MELAWAN HAWA NAFSU

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang termulia, sekaligus sebagai makhluk yang berkemungkinan. Manusia sangat mungkin mampu mencapai derajat tertinggi, bahkan melebihi derajat malaikat, namun ia juga mungkin bisa terjatuh ke tingkat yang paling rendah dan hina melebihi binatang. Kondisi tersebut bersumber pada dua hal yang melekat pada diri manusia yaitu hati nurani dengan arahan hidayatul fitrah dan hawa nafsu dibawah bimbingan syaithaniyah.

Ketika manusia terus melaju dengan hati nurani yang selalu disertai hidayatul fitrahnya, maka ia akan mampu mencapai puncak tertinggi melebihi makhluk-makhluk yang lainnya. Akan tetapi ketika manusia terus terseret nafsu syaithaniyahnya, maka ia akan terjatuh pada tingkat yang terhina melebihi binatang.

Allah SWT membekali manusia dengan dua hal itu (hati nurani dan hawa nafsu) yang selamanya tidak akan dapat bertemu dalam kebersamaan menuju kebaikan. Hati nurani selalu mengajak manusia kepada nilai-nilai kebaikan, sedangkan hawa nafsu selalu mempengaruhi manusia kepada kejahatan. Dua ciptaan itu dijadikan fitrah bagi manusia sebagai ujian, akan kemana manusia menentukan arah kehidupan yang menjadi tujuannya.

Islam sebagai agama yang diridloi Allah SWT telah menetapkan hukum-hukum bagi kehidupan manusia dalam mengokohkan eksistensi kemuliaannya. Jika manusia mematuhi hukum-hukum yang telah digariskan oleh agama pasti akan membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi manusia itu sendiri. Sesungguhnya manusia sebagai subyek juga diberikan perangkat akal untuk berfikir dan mempertimbangkan segala sesuatu yang dilakukannya dalam menentukan baik ataukah buruk.

Sebagai manusia yang berakal sehat tentu dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara pahala dan dosa. Secara fitrah sesungguhnya manusia memiliki kecenderungan pada kebaikan dan ingin menjauhi keburukan. Akan tetapi realitas kehidupan manusia acap kali berbeda dengan idealisme yang semestinya. Betapapun manusia menyadari bahwa keburukan akan mendatangkan akibat buruk bagi pelakunya, tetapi ia tak mau menghindar dari ajakan nafsu syetan yang akan menjerumuskan kepada lembah kehinaan.

Sebagai manusia yang dibekali dengan akal dan dipandu dengan petunjuk ilahi melalui kitab suci, maka sesungguhnya ia harus menyadari serta dapat mengendalikan diri dan tidak mengikuti hawa nafsunya untuk berbuat salah dan dosa. Hal itu berkaitan dengan firman Allah SWT :

(ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله ان الذين يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديدبما نسوا يوم الحساب  (ص : 26

Artinya : “… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia (hawa nafsu) akan menyesatkan kamu dari jalan Allah SWT. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah SWT akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad : 26)

Jika kita perhatikan realitas kehidupan dewasa ini, banyak sekali sudut kehidupan manusia yang telah dikuasai oleh hawa nafsu. Kasus-kasus kejahatan, kekerasan, tindak asusila, penjungkiran nilai, pemaksaan hak, kesewenang-wenangan, korupsi, terorisme dan lain sebagainya hampir merupakan sajian rutin setiap hari pada media massa. Semua itu terjadi karena ketidak mampuan manusia dalam membentengi, memerangi dan mengendalikan hawa nafsunya.

Oleh sebab itu memerangi dan mengendalikan hawa nafsu dalam pandangan islam sebagai perjuangan yang sangat besar (jihad akbar). Sebagaimana telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW pasca kemenangan dalam peperangan, yaitu :

رجعتم من الجهاد الأصغر الى الجهاد الأكبر فقيل وما جهاد الأكبر يا رسول الله؟ فقال : جهاد النفس

Artinya : “kalian semua pulanglah (kembalilah) dari sebuah pertempuran kecil menuju sebuah pertempuran besar. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah SAW. Apakah pertempuran besar itu wahai Rasulullah?. Beliau menjawab, jihad melawan (memerangi) hawa nafsu.”

Didalam kitab Burdah Imam Bushiri menyatakan :

وخالف النفس والشيطان واعصهما وان هما محضاك النصح فاتهم

Artinya : “janganlah anda mengikuti nafsu dan syetan serta kemaksiatan yang ditawarkannya. Dan tetap waspadalah, sekalipun keduanya membisikan nasehat (kesan baik).”

Memperhatikan keterangan diatas, maka dalam melawan hawa nafsu membutuhkan kesiapan dan kemauan yang sungguh-sungguh. Sebab hawa nafsu itu sudah menyatu dan melekat pada diri manusia, bahkan selalu tahu kapan manusia dalam keadaan lengah dan lepas kontrol. Sekali saja manusia dikuasai oleh hawa nafsunya, maka hawa nafsu itu akan terus mendesak untuk selalu menguasai, memperdaya dan mempermainkan kondisi fisik maupun psikis manusia itu sendiri sehingga menjadi kehilangan jati diri sebagai manusia yang bermartabat.

Dalam kondisi mayoritas manusia telah dikuasai oleh hawa nafsunya, maka orang yang memiliki komitmen terhadap moral dan nilai-nilai agama, kian makin tersingkir oleh opini umum sebagai simbol ketertinggalan. Sehingga kian tidak mendapatkan tempat yang signifikan dalam percaturan keduniaan. Dalam kondisi seperti itu, maka umat islam yang beriman harus tetap konsisten dengan komitmen keimanannya, jangan sampai mengikuti arus kebanyakan orang yang telah dikuasai oleh hawa nafsunya.

والله أعلم بالصواب

ESENSI BERSYUKUR

Maret 31, 2011 2 komentar

ESENSI BERSYUKUR

Bersyukur kepada Allah SWT adalah suatu keharusan bagi orang islam yang beriman. Bukankah setiap menit, bahkan setiap detik umat manusia di dunia ini selalu menikmati fasilitas yang dianugerahkan Allah SWT???

Tanpa disadari nikmat itu telah melekat sejak manusia terlahir kealam dunia hingga saat ini. Jantung berdetak, darah mengalir, mata melihat, telinga mendengar, itu semua adalah sebagaian kecil dari nikmat yang di anugerahkan Allah SWT kepada manusia. Betapa besarnya anugerah nikmat Allah SWT dari mulai yang kecil sampai yang besar, dari yang terlihat mata sampai yang tak terlihat.

Andai ada seseorang mencoba untuk menghitung nikmat Allah SWT, tentu akan kehabisan angka dan kemampuan karena nikmat Allah SWT tak terhingga banyaknya. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

وان تعدوا نعمة الله لا تحصوها (النحل : 18)8

Artinya : “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah SWT, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl : 18)

Sungguh kebenaran ayat tersebut sama sekali tidak dapat disangkal. Betapa banyaknya nikmat Allah SWT yang di anugerahkan kepada umat manusia. Sementara mereka hanya mampu memuji syukur, mensucikan dan mengagungkan atas kemaha besaran-Nya. Ungkapan itu membuktikan bahwa umat manusia di alam dunia ini adalah makhluk yang dha’if, sekaligus merupakan pengakuan dan kesadaran sebagai manusia yang harus mengabdi (beribadah) hanya kepada Allah SWT semata.

Bersyukur berarti menggunakan nikmat yang di anugerahkan Allah SWT pada misi pengabdian dan keta’atan kepada-Nya. Imam Nawawi memberikan penjelasan tentang esensi bersyukur :

وحقيقة الشكر الإعتراف بنعمة المنعم مع تعظيمه

Artinya : “Hakekat syukur adalah pengakuan atas kenikmatan yang diberikan Allah SWT disertai sikap mengagungkan-Nya”.

Dengan demikian menjadi sebuah keharusan bagi umat manusia untuk senantiasa menumbuhkan rasa syukur didalam dirinya. Sebab dengan bersyukur, maka akan selalu ingat kapada yang telah memberi nikmat (Allah SWT). Pun bisa lebih bijak  menggunakan kenikmatan sesuai dengan fungsi yang sebenarnya.

Untuk dapat bersyukur dengan baik, maka  perlu mengetahui bahwa karunia Allah SWT tidak hanya bersifat materi saja, namun mencakup banyak hal, misalnya kesehatan, kekayaan, keahlian, kesempatan, kemampuan intelektual dan lain sebagainya. Bahkan nikmat terbesar yang telah diberikan Allah SWT adalah hidup dalam keadaan islam dan beriman.

Kekayaan dan harta benda jika tidak disyukuri maka akan menjebak pada mental materialistik, hidup dalam pola konsumeristik yang diperbudak oleh harta benda kekayaan. Pada akhirnya akan menjauhkan pada yang maha memberi nikmat (Allah SWT) dan juga menjauhkan dari jati diri sebagai makhluk yang mulia. Allah SWT berfirman :

ولا تبذر تبذيرا. ان المبذرين كانوا اخوان الشياطين وكان الشيطان لربه كفورا (الاسراء : 2627)27

Artinya “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’ : 26-27)

Diantara pembuktian dalam merealisasikan rasa syukur kapada Allah SWT adalah dengan jalan menggunakan umur, harta benda, kesehatan dan lain sebagainya untuk kemaslahatan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara atas dasar mengharap ridlo Allah SWT. Dengan pembuktian syukur yang benar, maka Allah SWT memberi jaminan akan menambah kenikmatan yang lebih banyak lagi serta terhindar dari Adzab-Nya yang pedih. Allah SWT berfirman :

لئن شكرتم لأزيدانكم ولئن كفرتم ان عذابي لشديد (ابراهيم : 7)..7

Artinya : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmatku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim ; 7)

Secara tegas ayat tersebut menyatakan tentang syukur dan implikasinya serta akibat buruk yang akan menimpa orang yang mengingkari nikmat Allah SWT. Sungguh tak bermoral dan tak tahu diri orang yang tidak mau bersyukur kepada Allah SWT. Sesungguhnya manfaat bersyukur akan kembali kepada orang yang pandai bersyukur.

والله أعلم بالصواب

%d blogger menyukai ini: